Pengertian dan Faktor Penyebab Perubahan Sosial

Pengertian dan Faktor Penyebab Perubahan Sosial


Perubahan sosial terikat pada ruang dan waktu. Ruangnya adalah masyarakat dan lingkungan yang melingkupinya. Waktu merujuk pada periode terjadinya perubahan. Hal ini sejalan dengan definisi dasar perubahan sosial, yaitu sebagai perbedaan masa lalu dengan keadaan masa kini yang terjadi pada suatu sistem sosial yang sama. Pembicaraan tentang perubahan sosial terutama menyangkut organisasi dan struktur sosial.

 

Menurut teori sistem, terdapat enam hal yang berubah di dalam masyarakat, yaitu komposisi, struktur, fungsi, batas, hubungan antar subsistem, dan lingkungan (Jary and Jary, 1991; Rahardjo, 2014; Soelaiman, 1998; Sztompka, 2004). Menyarikan pendapat Macionis, Persell, Ritzer, dan Farley, PiÓ§tr Sztompka merangkum empat definisi utama perubahan sosial dalam sosiologi sebagai berikut : Pertama, adalah transformasi pola pikir dan perilaku yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Pola pikir terkait secara timbal balik dengan perilaku. Ada situasi ketika pola pikir mempengaruhi atau bahkan pada batas-batas tertentu mengendalikan perilaku.

 

Pada situasi yang lain tindakan perubahan pola pikir terjadi setelah ada perubahan tindakan. Salah satu contoh adalah perubahan dari dari pola pikir yang semua bersifat fatalistik menuju ke arah yang lebih rasional. Pola pikir fatalistik antara lain ditandai oleh kecenderungan untuk “menerima begitu saja” situasi yang dialami sebagai nasib. Seiring dengan kemajuan pendidikan modern, merambahnya sarana informasi dan telekomunikasi dan semakin terhubunganya suatu kawasan dengan kawasan lain, alih-alih menyalahkan keadaan di luar dirinya, individu di dalam masyarakat mulai berpikir bahwa mereka memiliki kemampuan, sehingga berusaha semaksimal mungkin untuk mengubah kondisi ekonomi dan sosial yang mereka hadapi.

 

Ke dua adalah modifikasi atau transformasi pengorganisasian masyarakat.Menurut perspektif evolusi, bentuk masyarakat paling awal adalah kawanan (band society). Umumnya bermatapencaharian berburu dan meramu, ciri utama masyarakat ini adalah ikatannya yang berbasis kekerabatan, egaliter, dan tiadanya struktur politik yang permanen. Biasanya beranggotakan antara 30 sampai 50 individu, mereka cenderung tidak mengenal kepemilikan pribadi. Mereka selalu berbagi, bekerjasama, dan melakukan praktik saling memberi. Kawanan berubah menjadi masyarakat suku (tribal society). Masyarakat ini dipersatukan oleh kesamaan bahasa dan ciri budaya. Umumnya adalah produsen makanan, masyarakat suku memiliki populasi yang lebih padat, lebih besar, dan cenderung terpusat. Mirip dengan kawanan, kedudukan antar anggotanya cenderung egaliter. Pemimpin dipilih karena kebijaksanaan, integritas, kecakapan, dan kepeduliannya terhadap kesejahteraan bersama. Masyarakat suku berubah menjadi kedatuan (chiefdom). Terdiri dari sejumlah komunitas lokal yang terstratifikasi menurut status dan pangkatnya, otoritas di dalam kedatuan dipegang oleh seorang individu yang biasanya merupakan keturunan dari datu sebelumnya. Pengambilan keputusan dilakukan secara tersentral pada satu orang. Kedatuan berubah menjadi masyarakat negara, yaitu sebuah organisasi politik hirarkis yang memerintah banyak kelompok di dalam suatu wilayah geografis yang luas. Negara memiliki hak eksklusif untuk menggunakan kekerasan dan koersi fisik (Ferraro and Andreatta, 2011).

 

Pada masa kini, cara pengorganisasian masyarakat juga senantiasa mengalami modifikasi. Sebagai contoh, kemacetan di kota-kota besar Indonesia secara bertahap sudah dapat diatasi melalui serangkaian perubahan dalam manajemen transportasi umum. Pada masa lalu, sebagian besar angkutan umum tidak memiliki jadwal perjalanan dan titik berhenti yang tidak dapat dipastikan. Hal tersebut membentuk sifat negatif anggota masyarakat, yaitu tidak disiplin dan tidak menghargai waktu. Calon penumpang menunggu angkutan umum di sebarang tempat, tanpa mengenal waktu. Jalan raya menjadi tempat yang semakin rawan peristiwa kecelakaan karena angkutan seringkali berhenti mendadak. Akibatnya mereka sering datang tidak tepat waktu dengan alasan angkutan yang ditumpanginya berhenti terlalu lama menunggu penumpang. Dibangunnya sistem angkutan massal terpadu memaksa orang untuk datang ke tempat pemberhentian tepat waktu. Pada saat yang sama, calon penumpang menjadi lebih banyak beraktivitas secara fisik berupa jalan kaki, karena angkutan tidak lagi berhenti di sebarang tempat. Masyarakat menjadi semakin menghargai waktu dan berlaku tertib, sehingga angka kecelakaan di jalan raya dapat semakin ditekan.

 

Ke tiga, Variasi hubungan antar berbagai elemen pembentuk masyarakat. Menurut Alex Inkeles (Soekanto, 1983), terdapat sekurang-kurangnya empat lembaga pembentuk masyarakat, yaitu lembaga politik, lembaga ekonomi, lembaga integratif-ekspresif, dan lembaga kekerabatan. Pada sejumlah masyarakat, terdapat relasi yang sangat erat antara kekerabatan dengan politik. Kekerabatan dapat menjadi sarana untuk melakukan mobilisasi sumberdaya ekonomi dan dukungan untuk memenangkan suatu kandidat. Sampai hari ini, kita masih lazim menjumpai kelompok-kelompok yang dipandang memiliki pengaruh besar pada percaturan politik lokal. Dalam perkembangannya, peran kelompok kerabat di sejumlah daerah mengalami penyusutan. Perannya mulai digantikan oleh ikatan berbasis keagamaan, kesukuan, profesi, atau partai politik.

 

Ke empat, perubahan hubungan sosial dan struktur sosial (Sztompka, 2004). Masyarakat terdiri dari individu-individu yang menjalankan peran dan memiliki status tertentu. Kedudukan seseorang di dalam masyarakat menjadi faktor penting bagi cara yang bersangkutan memosisikan diri dan diposisikan oleh orang lain. Untuk menjaga keberlangsungannya, sebagian masyarakat mengembangkan hubungan yang hierarkis antar anggotanya. Golongan aristokrat dipisahkan dari rakyat jelata. Mereka membedakan dirinya dengan berdasar kepada gaya hidup, bentuk rumah, selera seni, corak pergaulan, atau cara berpakaian. Pertunjukan teater tradisional seperti ketoprak di Jawa memperlihatkan secara jelas kedudukan setiap individu berdasarkan atas pakaian yang dikenakannya. Kini, orang awam tidak dapat lagi melihat perbedaan yang jelas antara golongan bangsawan dengan golongan awam hanya dengan melihat tampilan luarnya. Hubungan antar- individu menjadi lebih egaliter berkat munculnya ide-ide baru yang berakar dari revolusi Perancis, yaitu persaudaraan, kebebasan, dan kesetaraan.

 

Apa Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Sosial? Teori sistem menganalogikan masyarakat dengan organisma yang tersusun atas pelbagai subsistem yang terkait satu sama lain dalam Studi tentang perubahan sosial minimal dilakukan dengan dua cara, yaitu mengidentifikasi fenomena yang berubah dan penggunaan perspektif historis untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan-perubahan yang terjadi. Faktor yang menyebabkan perubahan dapat bersifat internal dan eksternal.

 

2.1.   Faktor Internal

Faktor internal adalah hal-hal yang terdapat di dalam masyarakat itu sendiri, antara lain perubahan jumlah dan komposisi penduduk; penemuan baru; konflik internal; malaintegrasi (sebagian menyebutnya disintegrasi); kebutuhan akan adaptasi di dalam sistem sosial; dan perluasan gagasan serta sistem keyakinan.

 

2.1.1 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Teknologi dapat menjadi faktor penentu perubahan sekaligus faktor yang bersifat saling tergantung dengan faktor-faktor lain di dalam masyarakat (Soelaiman, 1998). Ilmu dan teknologi adalah sarana ciptaan manusia yang dipergunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan membantu manusia dalam mengatasi pelbagai masalah. Sebelum revolusi industri, barang diproduksi dengan cara yang tidak efisien. Tenaga kerja yang banyak tidak diikuti oleh produktivitas yang tinggi, karena hanya mengandalkan tenaga manusia dan peralatan yang sederhana. Laju produksi tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan masyarakat akan bahan jadi. Sejarah mencatat bahwa revolusi industri diikuti oleh perubahan- perubahan sosial di banyak wilayah. Kehidupan di desa tidak lagi menguntungkan secara ekonomi karena semakin meluasnya konversi lahan pertanian menjadi perumahan, infrastruktur, dan kawasan industri baru. Pertumbuhan pusat-pusat industri baru menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan tenaga kerja. Hal ini mendorong arus migrasi penduduk dari perdesaan ke perkotaan.

 

Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan kota yang sama sekali berbeda dengan lingkungan desa. Ikatan-ikatan baru antar-individu terbentuk. Berbeda dengan masyarakat desa yang ditandai oleh hubungan yang serba informal dan ditopang oleh ikatan kekerabatan dan kesatuan wilayah, masyarakat kota mengembangkan hubungan yang cenderung formal dan didasari oleh pertemuan pelbagai kepentingan.

 

Di desa, eratnya hubungan antar-kerabat menyebabkan pengasuhan anak lebih mudah dilakukan, sehingga jumlah anggota keluarga inti cenderung banyak. Di kota, mahalnya biaya sewa hunian menyebabkan kelompok berpenghasilan rendah tinggal di rumah-rumah berukuran kecil dengan sanitasi yang kurang memadai. Pengasuhan anak menjadi lebih sulit dilakukan. Memiliki keluarga dengan ukuran kecil adalah pilihan terbaik untuk mereka.

 

2.1.2 Konflik sosial

Perjalanan sejarah umat manusia ditandai oleh terjadinya sejumlah konflik yang melibatkan kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda, misalnya warna kulit, suku, agama, kelas sosial, kelas ekonomi, dan lain sebagainya. Lewis Coser berpendapat bahwa konflik memiliki fungsi menjaga dan memperkuat ikatan dalam kelompok. Hal ini terutama terjadi apabila suatu kelompok terlibat konflik dengan kelompok lain. Selain itu, konflik juga bermakna positif karena mendorong terciptanya perimbangan

 

relasi kekuasaan baru, modifikasi norma lama, dan bahkan pembentukan norma baru di dalam masyarakat (Coser, 1956). Ralph Dahrendorf memandang bahwa konflik dapat menyebabkan digantikannya pemegang kekuasaan oleh aktor-aktor baru.

 

Kemungkinan ke dua adalah bahwa bahwa pergantian pemegang kekuasaan tersebut terjadi secara parsial. Kemungkinan terakhir adalah bahwa konflik tidak menyebabkan pergantian pemegang kekuasaan. Orang-orang yang sama tetap berada di dalam kekuasaan. Yang berubah adalah cara mengelola kekuasaan (Dahrendorf, 1959).

 

2.1.3 Malaintegrasi

Integrasi dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat. Sebagaimana sebuah kurva, integrasi mengalami pasang dan surut. Ada masa ketika integrasi kuat, ada kalanya melemah hingga sampai pada titik ketika masyarakat menuju ke jurang malaintegrasi. Sebagian ahli menyebutnya dengan disintegrasi, secara umum istilah ini merujuk kepadada situasi ketika struktur sosial dan budaya gagal dalam mencapai integrasi.

 

Faktor yang menjadi penyebab terjadi malaintegrasi ini antara lain sistem kapitalisme, politik segregasi, sistem apartheid, praktik rasialisme, dan pendikotomian pribumi – nonpribumi. Sistem kapitalisme melahirkan ketimpangan, sehingga berpotensi memunculkan ketegangan antar kelas di dalam masyarakat. Politik segregasi yaitu politik yang memisahkan suatu kelompok/golongan dari kelompok/golongan lainnya. Implikasi dari pemisahan ini adalah berkembangnya sikap curiga dan stereotipe antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Segregasi dapat berkembang menjadi persaingan yang tidak sehat. Stuasi terburuk bisa terjadi, yaitu konflik terbuka. Pada masa kolonial, masyarakat Indonesia dipilah-pilah menurut warna kulit dan identitas primordialnya. Masing-masing ditempakan pada hirarki sosial yang berbeda. Hak yang mereka miliki pun berlainan. Lapis sosial paling atas ditempati oleh golongan Eropa. Mereka menduduki jabatan di dalam pemerintahan sipil, militer, dan mendapatkan hak-hak istimewa di bidang hukum,. Lapis ke dua adalah golongan Asia Timur Jauh. Yang termasuk di dalam golongan ini adalah orang-orang Asia yang berkulit warna kuning. Sekalipun secara teoretis orang-orang Jepang dan Korea termasuk ke dalam golongan ini, namun ada anggapan umum mereka berlatarbelakang etnis Tionghoa. Oleh pemerintah Hindia-Belanda, golongan ini diberikan keistimewaan di sektor perniagaan, menjadi pengumpul pajak, dan penjaga pintu gerbang pembayaran cukai komoditas pertanian.

 

Lapis ke tiga adalah golongan Asia Barat. Mereka umumnya orang-orang yang berlatar belakang etnis Arab. Yang berada pada lapis paling bawah adalah golongan bumiputera, yang terdiri dari pelbagai suku yang telah lama hidup di Nusantara. Mereka umumya hidup sebagai petani, nelayan, buruh, dan pedagang kecil. Pemerintah kolonial sengaja menjalankan praktik segregasi semacam ini dengan tujuan untuk memecah-belah antar golongan. Potensi terciptanya persatuan pada masa itu dapat dimandulkan karena masing-masing golongan disibukkan oleh rasa curiga, benci, dan tiadanya solidaritas.

 

2.1.4 Kebutuhan akan adaptasi di dalam sistem sosial

Agar tetap bertahan, masyarakat harus selalu menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru. Bertambahnya jumlah anggota masyarakat direspon antara lain dengan memperluas wilayah atau menambah hunian; memperluas lahan atau meningkatkan produksi pangan tanpa harus menambah luas lahan; menciptakan struktur otoritas yang lebih berjenjang; atau membangun kerjasama dengan masyarakat-masyarakat lain. Sebagai contoh, perubahan cara hidup menyebabkan perubahan struktur sosial. Masyarakat yang hidup nomaden cenderung egaliter. Hal tersebut dikarenakan populasi yang relatif kecil, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara relatif sederhana dan cepat. Dalam teori evolusi dijelaskan bahwa setelah hidup menetap, manusia membutuhkan lebih banyak tenaga kerja, sehingga ukuran keluarga- keluarga cenderung membesar. Dalam populasi yang besar, musyawarah untuk mencapai kesepatakan bersama sulit dilakukan. Dibutuhkan suatu struktur masyarakat hirarkis yang menempatkan sebagian kecil anggotanya sebagai pemimpin yang diberikan kewenangan memerintah dan menyisakan mayoritas anggota sebagai rakyat yang diperintah.

 

Adaptasi juga dilakukan karena perubahan lingkungan tempat tinggal. Dalam kehidupan nomaden, ketika dihadapkan pada semakin menipisnya sumberdaya untuk bertahan hidup, masyarakat berpindah ke wilayah lain yang lebih mampu menopang kehidupannya. Kehidupan secara nomaden semakin sulit karena adanya struktur otoritas baru, yaitu negara, yang memiliki klaim atas penguasaan terhadap wilayah tertentu. Negara juga mengatur dan menerbitkan bukti hukum atas kepemilikan suatu lahan. Setelah hidup menetap, masyarakat hanya mengandalkan sumberdaya yang tersedia di wilayahnya, tanpa ada peluang untuk merambah ke wilayah lain. Akibat tekanan semacam itu, berkembang teknik dan sistem ekonomi baru. Teknik bercocok tanam dan teknologi pengolahan pangan tumbuh. Sistem ekonomi yang berdasarkan kepada pertukaran barang (barter), mulai dikombinasikan dengan sistem ekonomi yang menggunakan uang sebagai alat tukarnya.

 

2.1.5 Dampak dari perluasan gagasan dan sistem keyakinan terhadap tindakan sosial.

Gagasan dapat berasal dari individu atau sekelompok individu. Gagasan tidak akan membawa dampak apapun secara sosial apabila tidak disebarluaskan kepada anggota masyarakat lain. Seiring berjalannya waktu, suatu gagasan mungkin akan semakin banyak memperoleh penerimaan dari anggota-anggota masyarakat yang lain. Sekalipun demikian, perluasan gagasan seringkali mendapatkan hambatan karena konservativisme, yaitu kuatnya keinginan untuk mempertahankan gagasan lama dan karena kekurangcakapan penyebar gagasan dalam meyakinkan pihak lain tentang menarik dan pentingnya gagasan tersebut.

 

Kasus yang menarik untuk dijadikan contoh adalah persebaran gagasan tentang anak di Indonesia. Sebagai negara yang sedang membangun, pada era 1970-an, Indonesia dihadapkan pada masalah tingginya pertumbuhan penduduk. Faktor terbesar yang mendorong terjadinya situasi tersebut adalah besarnya angka kelahiran. Apabila tidak diimbangi dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk yang terlalu besar bisa menjadi faktor penghambat bagi program pengurangan pengangguran dan pemberantasan kemiskinan. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah orde baru kala itu mencanangkan pengendalian pertumbuhan penduduk melalui program Keluarga Berencana (KB). Salah satu tujuan dari program ini adalah terciptanya kondisi yang disebut dengan istilah Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS). Secara sederhana, target tersebut diterjemahkan ke dalam semboyan “Dua Anak Cukup”. Pengendalian kelahiran dilakukan dengan memperkenalkan sejumlah metode pencegahan kehamilan, atau dikenal dengan istilah kontrasepsi.

 

Program KB pada awalnya banyak ditentang terutama oleh kalangan agamawan. Mereka berpandangan bahwa kehamilan adalah karunia Tuhan. Manusia tidak boleh menolak atau mencegahnya. Hal tersebut diperkuat oleh semboyan yang tersebar luas d kalangan masyarakat yang mayoritas bekerja di sektor agraris, misalnya “banyak anak banyak anak banyak rezeki’, “mangan ora mangan ngumpul” (makan atau tidak, yang penting berkumpul). Penyebaran gagasan baru tentang pentingnya pengendalian kehamilan semakin sulit karena mendapatkan tantangan dari dua kekuatan sekaligus, yaitu doktrin agama dan gagasan tradisional. Cara yang ditempuh pemerintah adalah dengan memobilisasi aparatur birokrasi dan melakukan pendekatan kepada para agamawan yang memiliki pengaruh besar di tengah- tengah masyarakat. Aparatur birokrasi dijadikan sebagai kader pelopor KB di lingkungan tinggal masing-masing. Kultur masyarakat Jawa yang cenderung menaruh hormat kepada golongan priyayi, yaitu kelompok yang identik dengan pegawai negeri, dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah. Kuatnya patronase dalam kelompok keagamaan mengakibatkan perubahan pola pikir di kalangan elit agama banyak memengaruhi kalangan awam.

 

Contoh ke dua, gagasan tentang perlunya sistem politik yang demokratis di Indonesia, misalnya, pada awalnya hanya dianjurkan oleh sedikit orang. Baru pada pertengahan sampai dengan akhir era 1990-an gagasan ini mendapatkan dukungan luas dari masyarakat. Hal ini terutama dipicu oleh kegagalan sistem demokrasi semu orde baru. Alih-alih menyejahterakan, ekonomi yang dibanggakan oleh pemerintah waktu itu menyebabkan jutaan orang jatuh ke jurang kemiskinan. Banyak masyarakat pada giliranya meyakini bahwa sistem politik yang tertutup tidak lagi cocok dengan perkembangan zaman. Mereka menuntut dijalankannya sebuh sistem politik yang di dalamnya rakyat memiliki hak untuk dapat terlibat dalam pengambilan keputusan dan mengawasi jalannya pemerintahan (Jary and Jary, 1991).

 

2.1.   Faktor Eksternal

Masyarakat adalah entitas yang keberadaannya juga dipengaruhi oleh hal-hal yang berada di luar dirinya, sendiri, yaitu faktor eksternal. Ada sejumlah dinamika dan kekuatan luar yang turut memberikan kontribusi bagi perubahan suatu masyarakat. Termasuk di dalam kategori tersebut antara lain dinamika ekonomi global, perubahan iklim, konflik dengan masyarakat lain, migrasi, dan globalisasi budaya.

 

2.1.1. Dinamika ekonomi global

Berkembangnya perdagangan dunia menyebabkan semakin terintegrasinya pasar lokal kepada pasar global. Sejumlah komoditas dapat dengan relatif leluasa keluar dan masuk melintasi batas-batas antar negara. Karena sahamnya diperdagangkan di bursa efek, perusahaan dapat saja dimiliki oleh para pemegang saham yang tinggal pada lokasi yang jauh di luar wilayah kantor pusatnya. Harga komoditas-komoditas penting dapat dengan mudah berfluktasi. Daya beli masyarakat dapat dengan cepat melemah atau menguat akibat naik dan turunnya harga barang yang diperdagangkan di pasar dunia. Menyatunya sistem ekonomi dunia menyebabkan kondisi ekonomi suatu negara semakin rentan terdampak terhadap terjadinya gejolak yang terjadi di negara lain.

 

Dalam sejarah, faktor utama perpindahan pusat kerajaan Mataram Hindu dari Jawa Tengah ke Jawa Timur salah satunya adalah akibat tidak langsung dari pertumbuhan perniagaan di laut Jawa. Terjadi peningkatan arus komoditas karena terintegrasinya perairan Indonesia dengan mitra dagang dari Cina, India, dan Arab. Posisi pusat kerajaan yang berada di pedalaman menyebabkan mahalnya biaya ekspor, sehingga harga komoditas yang diperdagangkan di pasar internasional tidak dapat bersaing. Jauhnya pusat kerajaan dari pelabuhan laut juga menyulitkan masuknya barang-barang impor, sehingga mengurangi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Memindahkan pusat kerajaan ke lokasi yang berdekatan dengan jalur utama peniagaan adalah pilihan rasional yang diambil oleh Mpu Sindok kala itu.

 

2.1.2. Peperangan

Perang Dunia II adalah salah satu peristiwa dalam sejarah manusia yang menyebabkan sejumlah perubahan besar di masyarakat Eropa. Kehancuran akibat perang memunculkan masalah baru, antara lain kemiskinan, kelaparan, malnutrisi, dan wabah penyakit. Hal tersebut melahirkan tatanan masyarakat baru yang lebih berorientasi kepada kemakmuran bersama, alih-alih kesejahteraan individual. Sistem negara kesejahteraan yang diterapkan di negara- negara Skandiavia dan beberapa negara Eropa lain adalah salah satu respon atas nestapa yang ditimbulkan oleh perang besar itu.

 

Mereka merasakan derita secara bersama-sama, sehingga berkembang semangat berbagi. Salah satunya adalah dengan menerapkan pajak yang tinggi namun disertai dengan pelayan publik secara merata di semua kalangan. Masyarakat tidak dibiarkan berjuang sendiri, karena disadarai bahwa kapasitas antara satu individu dengan individu yang lain bervariasi.

 

2.1.3. Perkembangan Komunikasi dan Teknologi Informasi

Secara sederhana, komunikasi adalah pertukaran informasi antar-individu melalui sistem simbol, tanda, dan perilaku yang sama. Komunikasi dilakukan dengan cara verbal atau non- verbal. Komunikasi verbal dilakukan dengan menggunakan kata-kata terucap yang dirangkai menjadi susunan bermakna, sementara komunikasi non-verbal dilakukan dengan menggunakan isyarat, ekspresi wajah, gerak tubuh, dan cara-cara lain yang tanpa melibatkan ucapan. Pembawa pesan disebut sebagai komunikator. Penerima pesan disebut sebagai komunikan.

 

Di masa lampau, komunikasi hanya dilakukan dengan melibatkan tatap muka antara komunikator dengan komunikan. Dalam perkembangannya, komunikasi berkembang semakin kompleks. Sejak ditemukannya telegraf, komunikasi dapat dilakukan tanpa mengharuskan kehadiran secara fisik pihak yang berkomunikasi. Tidak hanya di dunia nyata, kini komunikasi juga dapat dilakukan di ruang-ruang maya yang diciptakan manusia. Kemajuan komunikasi memungkinkan orang menyampaikan pesan kepada dengan banyak orang dalam jaringan yang luas. Hal ini berdampak pada berubahnya pola interaksi antar individu. Ketidakhadiran secara fisik seseorang dalam komunikasi di dunia maya meningkatkan kecenderungan anonimitas individu. Individu semakin merasa leluasa untuk mengekspresikan pikirannya, karena hilangnya kendala dalam komunikasi, misalnya tidak terbacanya ekspresi wajah dan keleluasaan memilih waktu dalam merespon percakapan.

 

Sejak ditemukannya mesin cetak, proses penggandaan bacaan lebih mudah dilakukan. Media cetak berkembang pesat. Koran dan majalah menjadi rujukan bagi banyak orang dalam mencari informasi terbaru tentang hal-hal mutakhir. Buku menjadi sumber utama referensi pengetahuan. Dalam buku Imagined Communities, Ben Anderson mengungkap bahwa merebaknya media cetak menjadi faktor utama tumbuh dan berkembanganya kesadaran nasional di banyak wilayah (Anderson, 1991). Kini tumbuh varian baru media informasi, yaitu media yang berbasis dunia maya. Berbeda dengan media cetak yang secara tegas memisahkan peran antara pemberi informasi (koran dan majalah), dewasa ini individu dapat secara aktif membagi informasi melalui pelbagai platform yang disediakan oleh teknologi informasi berbasis internet.

 

2.1.4. Birokrasi

Max Weber menyebut birokrasi sebagai bentuk otoritas legal yang menjadi salah satu penciri masyarakat modern (Weber, 1978). Birokrasi adalah sebuah organisasi yang menjalankan suatu fungsi tertentu. Di dalamnya berisi individu-individu yang memiliki kompetensi spesifik. Sifat dasarnya adalah hirarkis dan impersonal. Ini berarti bahwa organisasi ini diatur secara berjenjang. Setiap jenjang menunjukkan cakupan kewenangan yang berbeda. Semakin tinggi kedudukan suatu bagian atau individu di dalam birokrasi, semakin besar pula kewenangan yang dimilikinya. Sifat impersonal birokasi ini ditunjukkan oleh tiadanya perbedaan perlakuan dan pelayanan yang diberikan kepada individu. Satu hal yang paling mendasar adalah bahwa aturan tertulis menjadi dasar pijakan beroperasinya birokrasi. Semua proses dan hasil yang diperoleh dari pelayanan ini juga dibuat secara tertulis.

 

Negara dibentuk dengan tujuan untuk menjamin keamanan dan mencerdaskan serta memakmurkan rakyatnya. Tujuan-tujuan tersebut dijabarkan dalam kebijakan yang dioperasionalkan menjadi sejumlah program pembangunan. Bahasa lain program pembangunan adalah perubahan sosial terencana. Birokrasi berperan memastikan bahwa program-program yang dijalankan negara dapat selaras dan sejalan dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Semakin efektif dan efisien birokrasi suatu negara, semakin besar kecenderungan perubahan-perubahan yang direncanakan tersebut terlaksana.

 

2.1.5. Modal

Modal mempengaruhi kapasitas dan kinerja ekonomi suatu masyarakat, karena perannya dalam menggerakkan produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa. Lebih jauh dari itu, volume modal yang berputar pada suatu masyarakat menjadi salah satu indikator tingkat partisipasi kerja.

 

Pengangguran berpotensi untuk dapat dikurangi apabila terdapat peningkatan investasi di suatu negara. Negara-negara berkembang memiliki sumberdaya dan tenaga kerja yang melimpah, namun cenderung minim modal, sehingga membutuhkan investasi asing. Investasi meningkat diikuti oleh penurunan angka pengangguran, sehingga kesejahteraan masyarakat membaik. Peningkatan kesejahteraan memberikan kesempatan individu memperbaiki sumberdaya manusia dengan cara menempuh pendidikan formal dan non-formal. Pada gilirannya akan tumbuh kesadaran baru, misalnya tentang pentingnya memperbaiki standar kualitas hidup.

 

Kesenjangan penguasaan modal juga pun dapat memunculkan persoalan baru di masyarakat. Revolusi Bolshevik yang menaikkan komunis ke puncak kekuasaan di Rusia pada awal abad ke-20 terjadi akibat dari ketidakpuasan mayoritas kelas pekerja yang termarjinalkan secara ekonomi. Runtuhnya orde baru di Indonesia adalah ujung dari krisis politik yang berawal dari gejolak ekonomi regional. Merosotnya nilai tukar Baht Thailand berimbas kepada jatuhnya kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika. Inflasi meningkat, banyak bank gulung tikar, perusahaan-perusahaan bangkrut, dan para investor melarikan modalnya ke luar negeri dalam upaya mereka keluar dari kemelut krisis. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Sebagian memutuskan kembali ke daerah asal. Sebagian yang lain memilih menetap di perkotaan, menjadi bagian dari kaum miskin kota. Mereka lah yang menjadi bagian penting dari pelbagai gerakan massa yang berujung pada mundurnya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

 

2.1.6. Teknologi

Relasi antara masyarakat dan teknologi bersifat timbal balik. Teknologi dikembangkan oleh masyarakat. Masyarakat memiliki otoritas memilih jenis teknologi yang akan dipergunakan dan cara teknologi tersebut dimanfaatkan. Setelah sebuah teknologi dijalankan oleh suatu masyarakat, maka ia akan mampu memengaruhi kehidupan sosial. Teknologi dapat pendorong perubahan sosial karena kemampuannya menguasai cara berpikir manusia melalui empat cara, yaitu reifikasi, manipulasi, fragmentasi, dan individualisasi.

 

Reifikasi diartikan sebagai keyakinan bahwa hal-hal yang bersifat empirik dan kuantitatif mencerminkan kenyataan di dalam masyarakat. Contohnya adalah naiknya pertumbuhan ekonomi diyakini menggambarkan keberhasilan pembangunan; banyaknya tempat ibadah dan meningkatnya jumlah penganut yang mengenakan simbol-simbol agama dianggap mewakili peningkatan religiusitas; dan peningkatan jumlahh pengguna alat kontrasepsi diyakini sebagai bukti keberhasilan program KB. Hal tersebut berdampak pada sikap dan tindakan yang lebih berorientasi untuk mengejar indikator ketimbang capaian, sebagaimana lebih dipentingkannya kulit daripada isi.

 

Manipulasi terkait dengan kemampuan teknologi dalam memodifikasi hal-hal yang alamiah menjadi bersifat artifisial. Televisi adalah salah satu contoh tentang bagaimana teknologi dapat mengubah pola hubungan di dalam keluarga. Setengah abad yang lalu, televisi tergolong barang mewah. Hanya mereka yang berasal dari kalangan berada yang mampu membelinya. Jumlah dan jenis tayangan yang disajikan pun terbatas. Di Indonesia, misalnya, sampai dengan awal era 1990-an, hanya ada satu stasiun televisi yang mengudara secara nasional, yaitu TVRI. Kecuali di hari minggu, siarannya terbatas antara pukul 15.00 sampai 23.00 WIB.

 

Setelah televisi swasta diizinkan mengudara, mulai lah siaran berlangsung selama 24 jam per hari. Tayangannya beragam, mulai dari berita, olah raga, musik, film, sinema elektronik (sinetron), opera sabun Amerika Latin, dan aneka kuis. Harga televisi semakin terjangkau. Mulai awal tahun 2000, hampir semua rumah tangga memiliki pesawat televisi sendiri. Di samping lebih cepat dalam mengetahui informasi, masyarakat penikmat televisi semakin banyak memperoleh gagasan dan gaya hidup yang sedang menjadi tren. Tayangan audio visual yang disebarluaskan oleh televisi membawa banyak pengaruh pada cara masyarakat memahami sesuatu. Terbukanya informasi menyebabkan masyarakat semakin mudah mempelajari nilai, norma, dan sistem baru yang sebagian di antaranya berusaha untuk mereka terapkan di dalam kehidupan sehari-hari.

 

Fragmentasi timbul sebagai akibat dari pembagian kerja yang ketat. Hal tersebut melahirkan spesialisasi. Individu hanya dihargai karena profesi yang dijalaninya, bukan karena kualitas pribadi dan harkat kemanusiaannya. Yang melandasi interaksi antar mereka hanyalah kesamaan kepentingan untuk memperoleh manfaat materiil atau dalam rangka menaikkan gengsi di hadapan orang lain. Individualisasi adalah semakin renggangnya hubungan antara individu dengan masyarakatnya. Karena hanya mengejar kepentingannya sendiri, individu cenderung acuh terhadap pelbagai masalah yang ditemui dalam kehidupan masyarakat, misalnya kemiskinan, eksploitasi, marjinalisasi, atau diskrimasi terhadap kelompok minoritas (Soelaiman, 1998).

 

2.1.7. Ideologi

Ideologi adalah sistem gagasan yang mendasari dan mempengaruhi tindakan sosial dan aksi politik (Jary and Jary, 1991). Salah satu kandungan utama ideologi adalah adanya cita-cita untuk mewujudkan suatu tatanan masyarakat menurut hal-hal ideal yang dirumuskannya. Kapitalisme, sosialisme, paternalisme, gender, mileniarisme, rasisme adalah beberapa di antara sekian banyak contoh ideologi yang berkembang di dunia. Karl Marx dan Friedrich Engels menyatakan bahwa: (1) ideologi selalu menyajikan gambaran dunia dari sudut pandang kelas berkuasa; dan (2) gambaran ini selalu merupakan gambaran yang terdistorsi karena karena kepentingan kelas berkuasa tidak pernah mewakili kepentingan umat manusia pada umumnya. Lebih jauh Marx mengkritik sistem kapitalisme yang menurutnya penuh dengan penindasan yang menyebabkan kesengsaraan kelompok miskin, terutama kaum buruh dan petani. Cita-cita menciptakan suatu masyarakat tanpa kelas mendorong terjadinya dua revolusi besar, yaitu revolusi Bolshevik yang melahirkan negara Uni Soviet dan revolusi komunis Cina yang melahirkan Republik Rakyat Cina. Sekalipun ideologi tersebu telah dinyatakan tidak laku, namun sampai hari ini masih ada negara yang masih menerapkan ajaran dan sistem sosialis, misalnya Korea Utara dan Kuba.

 

Pada skala global, pertarungan antara kedua ideologi tersebut terwujud dalam perlombaan persenjataan antara dua blok kekuatan dunia. Blok sosialis dimotori oleh Uni Soviet. Anggotanya adalah negara-negara Eropa Timur. Blok kapitalis dikomandoi oleh Amerika Serikat. Anggotanya adalah negara-negara Eropa Barat. Kedua pihak juga bersaing memperebutkan pengaruh di banyak kawasan, antara lain Amerika Latin, Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Salah satu dampak perebutan pengaruh tersebut di Asia Tenggara adalah terjadinya Perang Vietnam. Perang tersebut menewaskan ratusan ribu penduduk sipil Vietnam dan prajurit Amerika. Tergulingnya sejumlah rezim di Amerika Latin, Asia, dan Eropa diyakini juga sebagai dampak atas persaingan ideologi kapitalisme dengan sosialisme. Jatuhnya Bung Karno dari tampuk kekuasaan, naiknya Fidel Castro sebagai presiden Kuba, kudeta yang menaikkan Agusto Pinochet pada posisi puncak pemerintahan negara Cile, runtuhnya federasi Yugoslavia, dan bubarnya Uni Soviet adalah beberapa dari sekian banyak contoh perubahan sosial politik akibat ideologi.

 

Ideologi anti-rasisme yang dikampanyekan oleh Pendeta Martin Luther King Jr. berhasil mengubah masyarakat Amerika yang semula sarat dengan diskriminasi terhadap warga kulit berwarna (non-kulit putih) menjadi semakin inklusif. Diskriminasi yang semula dijumpai di fasilitas-fasilitas umum seperti angkutan umum, bioskop, toilet umum, halte, dan tempat- tempat lain mulai dihapus sejak awal 1970-an, setelah Luther King Jr gugur.

No comments

Post a Comment

Buka Formulir Komentar

Info Kurikulum Merdeka

Info Kurikulum Merdeka
Info Kurikulum Merdeka

Total Pageviews


Search This Blog

Social Media

Facebook  Twitter  Instagram  Google News   Telegram  

Popular Posts



































Free site counter


































Free site counter