Bentuk-Bentuk dan Dampak Perubahan Sosial

 

Bentuk-Bentuk dan Dampak Perubahan Sosial

Terkait Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial, Himes dan Moore menyatakan bahwa terdapat tiga dimensi perubahan sosial, yaitu dimensi struktural, dimensi kultural, dan dimensi interaksional.

 

3.1 Struktural

Perubahan secara struktural terutama terjadi pada dua aspek, yaitu peran dan fungsi. Peran dapat bertambah atau berkurang, bergeser wadah atau kategorinya, dan mengalami modifikasi saluran komunikasinya. Fungsi yang berubah di dalam struktur adalah tipe dan daya gunanya. Individu dengan peran tertentu dapat saja bertambah atau justru berkurang peran yang dimainkannya. Bertambahnya peran yang dijalankan berpotensi melahirkan gejolak. Menurut perspektif struktural-fungsional, gejolak akan direspon oleh sistem di dalam masyarakat dengan menciptakan keseimbangan baru. Setelah tercapai stabilitas, secara akan berkembang gejolak baru. Begitu seterusnya, sehingga kehidupan sosial senantiasa bergerak mendekati garis keseimbangan, atau yang dikenal dengan istilah equilibrium. Perubahan secara struktural juga mencakup aspek perilaku dan kekuasaan. Pada dasarnya sistem memiliki daya untuk memaksa individu patuh, mengikuti atau meninggalkan perilaku tertentu. Sebagai contoh, penjadwalan ketat perjalanan sarana transportasi memaksa orang untuk disiplin dan datang tepat waktu. Contoh lain, adalah kewajiban bagi para penyelenggara untuk melaporkan harta kekayaannya secara berkala dapat mengurangi peluang para aparatur negara melakukan praktik korupsi.

 

3.2 Kultural

Secara kultural, perubahan meliputi penemuan (discovery), pembaruan atas hasil temuan (invention), dan kontak dengan kebudayaan lain. Konsep discovery dan invention lebih banyak merujuk kepada ilmu pengetahuan dan teknologi. Penemuan teleskop telah mendorong berkembangnya wawasan baru tentang posisi bumi di dalam sistem tata surya. Hal tersebut juga menghentikan perdebatan berkepanjangan antara penganut paham geosentris yang meyakini bumi sebagai pusat tata surya dengan heliosentris yang meyakini bahwa matahari adalah pusat tata surya, sehingga bumi hanyalah planet yang mengorbit kepadanya. Banyak misteri tentang jagad raya yang semula cenderung dijawab dengan dogma religius, secara bertahap dapat dijelaskan dengan menggunakan metode yang bersifat ilmiah. Peran dogma di dalam masyarakat mulai tergeser oleh rasio.

 

Nalar lebih dikedepankan dalam pengambilan kesimpulan dan keputusan. Sistem politik teokratis yang menempatkan pemimpin negara sekaligus sebagai pemimpin agama perlahan mulai ditinggalkan. Penggantinya adalah sistem politik yang lebih berpusat pada kedaulatan rakyat. Tidak seperti teokrasi atau monarki yang memberikan kesempatan kepada sedikit orang dari golongan tertentu untuk menjadi pemimpin, dalam system demokrasi semua orang di dalam suatu negara relatif memiliki kesempatan setara untuk menjadi pemimpin politik. Masyarakat yang semula sangat hirarkis secara gradual berubah menjadi lebih egaliter.

 

3.3 Interaksional

Bila kita kembali kepada definisi masyarakat, maka terdapat dua hal yang mendasar, yaitu adanya sekelompok orang dan adanya interaksi. Interaksi berasal dari dua kata, yaitu inter dan aksi. Ilmu antropologi secara tegas membedakan perilaku (behavior) dan tindakan (action). Behavior adalah segala hal yang dilakukan binatang, sementara action adalah yang dilakukan oleh manusia. Perbedaan utama antar keduanya terletak pada hal yang mendorongnya. Behavior didorong sepenuhnya oleh naluri, sedangkan dalam action, naluri hanya memainkan peran minim. Peran terbesar dimainkan oleh kehendak (intention). Apabila satu orang bertindak (action) lalu direspon oleh orang lain, maka terjadilah apa yang kita sebut sebagai interaction. Frekuensi interaksi bervariasi. Ada saat-saat tertentu ketika individu atau sekelompok individu lebih sering berinteraksi dengan individu atau sekelompok individu yang lain. Pada saat yang lain mungkin frekuensinya lebih jarang. Perubahan lain yang dapat terjadi pada aspek interaksional adalah jarak sosial. Ada hubungan-hubungan yang cenderung lebih intim atau kurang intim daripada sebelumnya. Hubungan yang semula bersifat informal dapat berubah menjadi formal. Selain itu, juga terdapat perubahan aturan serta bentuk interaksi yang berlangsung dalam kehidupan sosial.

 

3.4 Irama

Berdasarkan iramanya, terdapat dua jenis perubahan, yaitu evolusi dan revolusi. Evolusi berarti perubahan yang berlangsung secara perlahan dan mengikuti tahap-tahap perkembangan yang yang berlangsung secara terus-menerus. Begitu perlahan sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa perubahan tengah berlangsung. Orang baru menyadari terjadinya perubahan setelah jangka waktu yang lama dan terasa ada hal-hal yang secara signifikan berubah. Disebut bertahap karena perubahan terjadi pada aspek-aspek tertentu, lalu secara gradual merembet kepada aspek-aspek lain. Cara pandang ini dipengaruhi oleh teori evolusi biologis yang dirumuskan oleh Charles Darwin. Sebagaimana organisme, awalnya masyarakat adalah suatu susunan yang sederhana. Melalui serangkaian adaptasi terhadap dinamika internal dan eksternal (lingkungan sekitar), masyarakat tumbuh semakin kompleks. Diyakini oleh cara pandang ini bahwa setiap masyarakat melalui tangga-tangga evolusi tahap demi tahap. Sampai pada suatu fase ketika masyarakat telah mencapai apa yang disebut sebagai “puncak tangga evolusi”. Rumusan August Comte tentang tiga tahap perkembangan pemikiran sangat dipengaruhi oleh perspektif evolusi ini.

 

Herbert Spencer berpandangan bahwa evolusi berlangsung melalui diferensiasi struktural dan fungsional, yaitu :

• Dari sederhana menuju kompleks

• Dari tanpa bentuk menuju kepada bentuk yang bagian-bagiannya dapat dilihat keterkaitannya

• Dari homegenitas menuju kepada heterogenitas

• Dari instabilitas menuju kepada stabilitas (Sztompka, 2004)

 

Bertolak belakang dengan itu, revolusi adalah perubahan yang berlangsung cepat (mendadak), drastis, dan seringkali bertolak belakang dengan keadaan sebelumnya. Revolusi dapat juga diartikan sebagai perubahan besar dalam aspek-aspek utama masyarakat yang membawa kepada perubahan sifat masyarakat. Sebagai contoh, revolusi industri menyebabkan perubahan perilaku individu. Contoh lain adalah revolusi ilmiah pada abad ke 17 yang kemudian menjadi landasan bagi perkembangan-perkembangan utama dalam ilmu pengetahuan modern.

 

Revolusi dapat juga dipahami dari sudut pandang politik. Sebagian besar teori revolusi politik dipengaruhi oleh gagasan Karl Marx. Sebagai contoh, pemimpin revolusi Bolshevik, Vladimir Lenin, berpendapat bahwa situasi yang memunculkan revolusi terjadi ketika tiga elemen bertaut satu sama lain, yaitu : (1) ketika massa tidak lagi dapat lagi hidup dengan cara yang lama; (2) ketika kelas penguasa tidak dapat lagi memerintah dengan cara yang sama; dan (3) ketika penderitaan dan kemiskinan yang dialami oleh kelas tereksploitasi dan kelas tertindas berubah semakin akut. Ia menambahkan bahwa revolusi hanya dapat berhasil jika ada partai pelopor yang memiliki program, strategi, taktik, dan disiplin organisasi sehingga dapat menjamin datangnya kemenangan.

 

Ciri-ciri revolusi adalah sebagai berikut:

• Revolusi menimbulkan perubahan dalam cakupan terluas, menyentuh semua lapisan dan aspek kehidupan masyarakat;

• Perubahan dalam revolusi bersifat radikal, mendasar, dan menyeluruh;

• Perubahan dalam revolusi berlangsung dengan sangat cepat dan tiba-tiba;

• Karena cepatnya perubahan tersebut, revolusi sangat mudah diingat (Sztompka, 2004)

 

3.5 Kesengajaan

Berdasarkan atas aspek kesengajaannya, dikenal dua konsep, yaitu perubahan yang dikehendaki (intended change) atau perubahan yang terencana (planned change) dan perubahan yang tidak dikehendaki (unintended change) atau perubahan yang tak terencana (unplanned change) (Rahardjo, 2014). Di dalam perubahan sosial terdapat pelopor perubahan (agent of change), yaitu seseorang atau sekelompok orang dipercaya sebagai pemimpin dalam lembaga sosial (Soemardjan, 2009). Perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang telah diketahui dan dirancang sebelumnya oleh para pelopor perubahan.

 

Negara adalah salah satu aktor utama dalam perubahan sosial terencana. Indonesia adalah contoh nyata. Sejak awal berdirinya, para pendiri negara ini telah mencanangkan empat tujuan utama hendak dicapai, yaitu (1) memberikan perlindungan kepada wilayah dan rakyat yang ada di dalamnya; (2) memajukan kesejahteraan umum; (3) mencerdaskan kehidupan bangsa; dan (4) ikut menjaga ketertiban dunia. Keempat tujuan tersebut diterjemahkan ke dalam rencana dan program pembangunan. Pembangunan dilaksanakan pada skala nasional, regional, sampai dengan level terkecil, yaitu keluarga. Negara merumuskan kondisi ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya, dan bahkan keluarga yang ideal yang ditargetkan untuk dicapai. Pemerintah berkewajiban untuk menciptakan stabilitas politik dan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang transparan dan akuntabel agar dapat menarik investasi serta mempertahankan investasi yang telah ada. Pada saat yang bersamaan, pemerintah juga membangun prasarana yang dapat mempermudah jalur distribusi barang dan persebaran informasi.

 

Fasilitas pendidikan dibangun secara beriringan dengan sistem pendidikan nasional untuk mengubah cara berpikir irasional menjadi rasional serta membentuk individu-individu yang mampu beradaptasi dengan cepatnya dinamika zaman. Daerah yang semula terisolasi, perlahan mulai terbuka terhadap dunia luar. Perikehidupan masyarakat berubah dari yang berorientasi kepada subsistensi menuju kepada orientasi yang lebih mengarah kepada peningkatan kesejahteraan.

 

Secara berkala, capaian-capaian pembangunan dievaluasi, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Secara kuantitatif, angka pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, tingkat pengangguran, angka kematian ibu melahirkan, angka kelahiran bayi, indeks kesenjangan ekonomi, dan lain-lain diamati kecenderungannya. Secara sederhana, dapat digambarkan bahwa meningkatnya pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan menekan angka pengangguran, sehingga secara agregat menurunkan angka kemiskinan. Penurunan angka kemiskinan artinya daya beli masyarakat meningkat, sehingga dapat memacu peningkatan produksi barang dan jasa, yang pada gilirannya akan terjadi peningkatan kebutuhan akan tenaga kerja (penurunan angka pengangguran).

 

Terbuka luasnya lapangan kerja meningkatkan minat perempuan untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Mereka berharap untuk dapat memiliki penghasilan dengan bekerja. Pekerjaan di pelbagai sektor kini tidak hanya dikerjakan oleh laki-laki. Saat ini, angka partisipasi kerja perempuan di Indonesia mencapai angka 50 persen. Artinya adalah satu di antara dua orang perempuan bekerja di sektor publik. Bekerjanya perempuan mengubah struktur keluarga. Karena secara ekonomi tidak lagi terlalu tergantung kepada suaminya, perempuan Indonesia memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya. Tidak hanya ibu, dewasa ini banyak suami yang terlibat aktif dalam mengasuh (membesarkan, menanamkan nilai dan norma, serta mengajarkan “cara hidup” kepada anak-anak mereka).

 

Lalu apa dampak perubahan sosial? Setiap hal yang berubah akan membawa dampak. Secara umum, perubahan sosial dapat membawa dampak negatif atau positif. Perubahan dapat terjadi dalam jangka waktu yang pendek atau jangka panjang, sementara atau permanen, menyeluruh atau parsial, berskala besar atau kecil. Satu hal yang pasti adalah perubahan sosial dapat membawa dampak berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lain.

 

4.1 Positif

Disebut positif karena dampak dari perubahan sosial tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat atau kelompok-kelompok individu yang ada di dalamnya. Suatu perubahan yang hanya memberikan manfaat kepada individu-individu tertentu tidak dapat disebut sebagai dampak positif apabila hal tersebut membawa kerugian bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Dampak-dampak positif dari perubahan sosial dapat diuraikan pada paparan berikut ini.

 

4.1.1. Perubahan sosial dapat mempercepat dan mempermudah manusia menyelesaikan aktivitas.

Aktivitas yang dilakukan manusia dapat bersifat fisik maupun non-fisik. Perubahan teknologi dapat mempercepat pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga terbuka kesempatan yang lebih luas untuk dapat berinteraksi dengan individu-individu yang lain. Dewasa ini, individu bahkan dapat menghadiri suatu pertemuan dan membicarakan tentang hal-hal penting tanpa harus secara fisik hadir di suatu ruangan yang sama. Orang-orang dari belahan dunia yang berbeda dapat secara bersamaan “berkumpul”, merencakan, dan memutuskan sesuatu dengan menggunakan fasilitas teleconference, misalnya.

 

4.1.2. Perubahan sosial dapat meningkatkan integrasi sosial.

Sistem negara modern yang mengendalikan suatu wilayah dan rakyat melalui kontrol secara berjenjang memungkinkan semakin eratnya integrasi antar anggota masyarakat, bahkan pada masyarakat yang sangat majemuk sekalipun. Negara mampu meyakinkan rakyat yang berlatar belakang sangat beragam tersebut akan pentingnya mencapai tujuan bersama. Kesamaan cita-cita mendorong masyarakat untuk meminimalisasi potensi konflik yang dapat mengarah kepada disintegrasi. Tidak hanya pada skala nasional, kecenderungan untuk menjaga keharmonisan hubungan antar-individu dan antar-kelompok juga berkembang pada skala kecil, yaitu kampung dan keluarga.

 

4.1.3. Perubahan sosial dapat meningkatkan kualitas individu.

Perubahan pada tingkat masyarakat membawa dampak pada individu-individu yang tinggal di dalamnya. Salah satu cara untuk mengetahui kondisi kualitas individu pada suatu negara adalah dengan merujuk pada data Indeks Pembangunan Manusia (IPM). United Nations Development Programs (UNDP) menerbitkan laporan bahwa IPM Indonesia mencapai peningkatan pesat dari angka 0.52 pada tahun 1990 menjadi 0.7 pada tahun 2018. Hal tersebut disebabkan oleh semakin baiknya angka harapan hidup, kondisi kesehatan, pengetahuan, dan standar hidup layak, berkat adanya pembanguna yang dirancang dengan matang dan diimplementasikan secara baik.

 

4.1.4. Semakin cepatnya mobilitas sosial. Sosiologi mendefinisikan mobilitas sosial sebagai perpindahan posisi individu di dalam hirarki stratifikasi sosial suatu masyarakat.

Mobilitas dapat terjadi dari stratifikasi bawah menuju ke atas atau dari atas menuju ke bawah. Yang menjadi fokus sosiologi adalah perbandingan antara kelas sosioekonomi atau status dari keluarga tempat yang bersangkutan dilahirkan dengan kelas, status, atau posisi yang dicapainya. Mobilitas dapat terjadi secara cepat atau pelan, sementara atau relatif permanen. Perubahan sistem ekonomi feodal menjadi kapitalisme mengubah status tuan tanah menjadi kelas borjuis yang menguasai sarana produksi. Mereka adalah bagian dari kelompok elit di dalam masyarakat. Besarnya kekuatan ekonomi membuat mereka dapat lebih mudah mempengaruhi pembuat kebijakan. Terjadi simbiosis mutualisma antara kekuatan politik dengan kekuatan ekonomi. Politik membutuhkan sokongan ekonomi. Ekonomi membutuhkan perlindungan dan jaminan dari kekuatan politik agar usaha yang mereka jalankan dapat bebas dari gangguan.Para petani miskin mengalami transformasi menjadi buruh untuk perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh para pemilik modal tersebut. Mereka merupakan mayoritas yang menduduki strata rendah di dalam hirarki masyarakat.

 

Di samping lemah secara ekonomi, daya tawar politik mereka begitu rendah sehingga sulit bagi mereka untuk mempengaruhi para politisi agar membuat kebijakan yang berpihak kepada mereka. Situasi berubah dengan cepat bila revolusi sosialis. Golongan elit ekonomi hilang. Status mereka berubah menjadi setara dengan golongan yang semula berada dalam posisi termarjinalkan. Semua orang berada pada kelas yang sama.

 

4.1.5. Perubahan sosial menyebabkan semakin berkembangnya pola berpikir.

Mengikuti alur berpikir yang dikembangkan oleh August Comte, pada dasarnya pemikiran di dalam masyarakat berkembang dari fase teologis, menuju kepada metafisis, dan akhirnya sampai kepada fase positif. Ketiganya dibedakan menurut cara memahami sesuatu. Fase positif ditandai oleh cara berpikir yang lebih banyak mengandalkan rasio sebagai alat untuk memahami dan menjelaskan sesuatu. Sebagai contoh, pada masa lampau cerita rakyat, mitos, dan legenda adalah sarana utama untuk menjelaskan suatu peristiwa alam. Kemajuan bidang pendidikan dan semakin terbukanya sumber- sumber informasi membuat individu semakin mampu memahami peristiwa- peristiwa alam tersebut dengan menggunakan sudut pandang ilmiah.

 

4.2 Negatif

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan sosial dapat dilihat pada uraian berikut ini.

 

4.2.1 Perubahan sosial dapat menyebabkan peningkatan kemiskinan.

Sebagian individu dan kelompok di dalam masyarakat dapat memperoleh manfaat positif dari perubahan sosial, yaitu berupa peningkatan kemakmuran dan perbaikan kualitas hidup. Namun demikian, ada sebagian individu atau kelompok yang justru menderita akibat perubahan tersebut. Perubahan orientasi pertanian dari subsistensi menuju ke arah pertanian komersial dapat dijadikan contoh. Agar dapat mencapai target produksinya, pertanian komersial membutuhkan modal yang besar dan biaya bercocok tanam yang mahal. Persyaratan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh petani-petani pemilik lahan sempit. Agar dapat bertahan hidup, para pemilik lahan sempit tersebut memilih untuk menjual atau menyewakan lahannya kepada petani-petani berlahan luas. Petani-petani berlahan sempit tersebut bertransformasi menjadi buruh tani dengan kondisi ekonomi yang lebih buruk daripada sebelumnya.

 

4.2.2 Perubahan sosial dapat meningkatkan pengangguran.

Penerapan teknologi baru di dalam masyarakat dapat menyebabkan sebagian orang kehilangan mata pencaharian. Contohnya adalah berkembangnya sarana transportasi berbasis aplikasi pada telepon pintar (smart phone). Yang terdampak oleh menjamurnya sistem ini adalah taksi konvensional, usaha angkutan umum, dan ojek pangkalan. Dua tahun silam kita menyaksikan terjadinya demonstrasi besar-besaran pengemudi taksi yang memprotes diizinkannya usaha transportasi bebasis aplikasi telepon pintar, seperti Grab, GoJek, dan Uber. Tidak terhitung berapa kali demonstrasi menentang perizinan ini yang dilakukan oleh tukang becak, pengemudi angkutan umum, dan tukang ojek pangakalan di pelbagai kota. Mereka khawatir mata pencahariannya terancam.

 

4.2.3 Perubahan sosial dapat meningkatkan kriminalitas.

Kriminalitas didefinisikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum. Emile Durkheim menyatakan bahwa hukum berubah mengikuti perubahan-perubahan struktur sosial. Menurutnya, perubahan historis dari solidaritas mekanis menjadi solidaritas organis membawa serta perubahan dalam pola relasi antar- individu. Hubungan antar-individu menjadi lebih formal karena didorong oleh kesamaan kepentingan. Spesialsiasi meningkat. Urusan pencegahan dan penindakan atas perilaku kriminal diserahkan kepada lembaga yang diberi otoritas, antara lain polisi, tentara, atau petugas keamanan. Individu merassa bahwa kontrol sosial semakin longgar. Penyimpangan-penyimpangan pada skala kecil cenderung diabaikan, sehingga berpotensi memunculkan keberanian untuk melakukan penyimpangan yang lebih serius.

 

4.2.4 Perubahan sosial menyebabkan terjadinya konflik sosial.

Akibat dari persaingan memperebutkan sumberdaya ekonomi yang terbatas, masyarakat dapat mengalami polarisasi. Pada satu sisi ada sekelompok kecil anggota masyarakat yang makmur. Pada ujung kutub yang lain, ada sekelompok lain yang relatif miskin. Apabila kesenjangan ekonomi ini beririsan dengan sentimen primordial, maka dapat muncul ketidaksukaan yang bisa saja berkembang menjadi rasa benci terhadap kelompok lain. Pada titik ini lah konflik sosial dapat terjadi.

 

4.2.5 Perubahan sosial menyebabkan pencemaran lingkungan.

Sejumlah studi menunjukkan adanya peningkatan polusi udara dan pencemaran terhadap air tanah di kawasan industri dan wilayah padat penduduk. Aktivitas manusia menghasilkan limbah. Ketika terlepas ke lingkungan tanpa melalui pengolahan yang memadai, limbah dapat berubah menjadi ancaman bagi kesehatan individu-individu di dalam masyarakat (Martono, 2018; Rahardjo, 2014).

 

No comments

Post a Comment

Buka Formulir Komentar

Info Kurikulum Merdeka

Info Kurikulum Merdeka
Info Kurikulum Merdeka

Total Pageviews


Search This Blog

Social Media

Facebook  Twitter  Instagram  Google News   Telegram  

Popular Posts



































Free site counter


































Free site counter